Pentingnya transportasi massal

transportasi massal

les privat surabaya

Dalam hitungan sederhana ada 3,5 Juta sepeda motor di Jakarta (17.2% dari populasi motor se Indonesia yang 22 Juta). Bila satu sepeda motor makan ruang 2.5 meter – maka total panjang sepeda motor di Jakarta bila dijejerkan mencapai 8,75 Juta meter – atau sama dengan 8750 Kilometer. Hampir 9 kali panjang pulau Jawa.

Dengan lebar per sepeda motor sebesar 1,5 meter – berarti satu sepeda motor makan ruang 3,75 meter persegi. Bila dikalikan dengan jumlah sepeda motor – maka ruang untuk sepeda motor mencapai 13,1 Juta meter persegi – atau sama dengan 1312 hektar – atau sama dengan 2625 kali lapangan sepak bola.

Nah sekarang pertanyaannya : “Berapa luas sih jalan di pusat kota Jakarta? Bisa anda bayangkan dan hitung sendiri – bagaimana jadinya kalau setiap hari perlu disediakan ruang 2000 kali lapangan sepak bola – hanya untuk transportasi sepeda motor.

Dan keadaan akan menjadi lebih parah lagi – karena jumlah sepeda motor bertumbuh 15-20% per tahun — berarti jumlah sepeda motor akan LIPAT DUA dalam 4 tahun – dan LIPAT EMPAT dalam 7 tahun.

Hal yang sama juga berlaku untuk transportasi mobil pribadi.

Anda bisa bayangkan bagaimana rupa kota Jakarta pada tahun 2010. Kota yang tercekik oleh kendaraan pribadi (baik mobil atau motor). Jakarta akan menjadi kota neraka kemacetan… MACET TOTAL.

Itu sebabnya – transportasi massal adalah harga mati. Tidak bisa ditawar lagi.

Balik lagi soal motor.

Jalan yang ada sekarang tidak cukup untuk menampung jumlah sepeda motor – dan untuk melebarkannya tentu harus keluar biaya besar melalui pembebasan tanah dll. Untuk ukuran kota seperti Jakarta, ini berarti harus keluar duit trilyunan. Lebih baik duit sebesar itu digunakan untuk membangun transportasi massal – dan kalau perlu untuk subsidi ongkos transportasi massal agar tiketnya terjangkau.

Penggunaan sepeda motor juga berkonsekuensi pada tingkat kemacetan yang luar biasa (terutama saat musim hujan ketika pengendara motor biasanya berteduh di bawah jembatan). Belum lagi memburuknya kualitas udara (yang juga akan merugikan pengendara motor sendiri). Masih perlu ditambah dengan tingkat stress dan ongkos kelelahan fisik lainnya.

Ada orang yang hampir tiga jam sehari dihabiskan di atas jok motor hanya untuk pulang dan pergi kerja. Bandingkan dengan waktu kerjanya yang 8-9 jam. Sangat tidak masuk akal.

Bagaimana bisa seseorang fit memulai kerja – kalau belum apa-apa harus berurusan dengan kemacetan selama 1.5 jam saat menuju kantor? Bagaimana bisa ada waktu untuk keluarga – kalau pulang kerja saja perlu waktu 1.5 jam dan sampai di rumah sudah capek setengah mati. Bagaimana Indonesia bisa kompetitif – kalau tenaga kerjanya “tua di jalan”…? Bukankah waktu itu juga ada harganya….?

Itu sebabnya saya tidak melihat sepeda motor sebagai solusi. (BTW angkot atau mikrolet juga bukan solusi. Yang diperlukan adalah mobil transport MASS-RAPID transportation).

Zone pusat kota harus dijadikan zone prioritas transportasi umum, mobil trasnport, atau apa. Orang yang tinggal di Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang silahkan naik motor sampai ke stasiun kereta api, stasiun MRT, stasiun Busway, Light Railway, stasiun Tube, atau apapun – dan parkir motor mereka di halaman stasiun – lalu naik transportasi umum ke Jakarta. Dalam 20 menit mereka sudah bisa sampai di Jakarta dan bisa langsung bekerja. Demikian juga saat pulang.

Alhasil walaupun harus keluar duit lebih – tetapi efisiensi kerja akan meningkat dan ongkos kesehatan bisa ditekan.

Jadi jelas – BANYAK yang harus dipikirkan di luar sekadar ongkos biaya bensin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s